Ekonomi Lebaran, Ekonomi Remiten

Fenomena mudik merupakan fenomena yang khas Indonesia, di mana ikatan kampung halaman, khususnya orang tua dan kekerabatan, masih sangat kuat.

Peristiwa mudik merupakan fenomena ekonomi remiten, yaitu pemudik membawa surplus perkotaan atau pusat dikembalikan ke daerah atau pedesaan. Jika seorang membelanjakan antara 1 sampai 2 juta rupiah, maka jumlah yang dibelanjakan langsung kembali ke daerah pada saat mudik diperkirakan sekira Rp40 triliun.

Jumlah yang sangat berarti dibelanjakan dalam sekitar 10 hari. Remiten merupakan sumber ekonomi yang sangat penting bagi pedesaan. Para pekerja pedesaan, baik yang bekerja di industri pengolahan, bekerja di sektor konstruksi, jasa-jasa terutama jasa transportasi, perdagangan, perhotelan, restoran, dan warung makan, serta yang paling populer menjadi pekerja keluarga (house keeper) sangat penting menopang keluarga- keluarga di perkotaan dan di luar negeri.

Remiten yang sangat berarti bagi pedesaan dan juga bagi devisa negara adalah yang dihasilkan oleh para house keeper tenaga kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri. Tahun lalu, remiten dari luar negeri diperkirakan Rp81 triliun.

Jumlah ini sangat berarti untuk menggerakkan ekonomi pedesaan yang selama ini terpinggirkan. Memang sektor pertanian menjadi fokus selama pemerintahan Orde Baru, akan tetapi peningkatan efisiensi dan produktivitas tidak bisa menghalangi batas absolutnya, yaitu luas tanah yang sangat kecil. Pekerjaan di luar pertanian sangat diperlukan oleh tenaga kerja pedesaan.

“Laptopisasi”: Penyedotan Kembali Surplus Pedesaan

Memang pedesaan mendapat remiten saat Lebaran dan di hari-hari lain secara rutin. Namun, perkembangan tingkat konsumsi dan gaya hidup pedesaan yang dipompa lebih cepat menyebabkan remiten yang sangat berarti tersebut tersedot kembali.

Intrusi iklan, khususnya melalui TV dan interaksi tenaga kerja dengan gaya hidup perkotaan dan luar negeri, menyebabkan perubahan tingkat konsumsi yang lebih cepat. Pemerintah tidak memiliki strategi kebudayaan sama sekali yang berfungsi membentuk karakter bangsa yang pada akhirnya berkaitan dengan konsumtifisme.

Misalnya penggunaan hasil produksi dalam negeri gagal dilaksanakan, bahkan untuk proyek-proyek yang dibiayai pemerintah sendiri. Peningkatan perilaku konsumtif yang lebih cepat dari sumbangan remiten bisa menjadi pemicu kemiskinan relatif di pedesaan.

Barang-barang modern yang makin gencar menyerbu pertahanan konsumsi tradisional pedesaan tidak lagi mampu dibiayai dan menyebabkan kemiskinan baru dalam arti munculnya jurang kebutuhan dan pembiayaannya.

Dua fenomena paling mencolok penyedotan kembali remiten dan bahkan sumber asli pedesaan misalnya pada penggunaan telepon seluler (ponsel) dan pulsanya dan kampanye penggunaan information and communication technology (ICT) dalam bentuk internet yang tanpa sadar berpotensi menyedot daya beli pedesaan.

Pemerintah sendiri sekarang tersihir oleh kemajuan dan manfaat internet dalam mengakses data. Pemerintah melalui Depdiknas memelopori penggunaan internet sampai di pedesaan. Buku elektronik sekolah (EBS) adalah salah satu contoh gencarnya pemerintah dalam memprakarsai penggunaan internet.

E-governance, e-business, e-marketing, dan berbagai bentuk lainnya mendapat acungan jempol di mana-mana. Pemerintah kabupaten yang memiliki jaringan online dengan kecamatan dan desa menjadi tempat studi banding.

Penggunaan ponsel dan internet itu sendiri tidak salah, yaitu merupakan jalan mengakses informasi dan memperbaiki produktivitas pedesaan di masa depan. Yang salah adalah tidak dipersiapkannya partisipasi domestik atau local content dalam memenuhi pasar domestik yang begitu luas ke depan.

Kampanye internet terlihat agak gugup dan reaktif dengan kajian selintas melihat perkembangan internet di negara lain yang maju. Laptop sekarang dipasarkan dengan harga sangat murah, terutama merek-merek terkenal yang diproduksi di China dan hanya dipasarkan sekitar seperempat harga semula.

Di samping menjadi tempat relokasi industri ICT, raksasa China juga mengakuisisi industri-industri ICT lainnya. Kegugupan kita dengan tergesa-gesa mendorong masyarakat membiasakan penggunaan komputer dan internet diduga akan menyedot bahkan menguras bukan saja remiten pedesaan, tetapi sekaligus surplus yang dimiliki pedesaan.

Kampanye penggunaan internet memperbesar market Indonesia bisa sampai menembus 100 juta pengguna di masa depan. Penggunaan internet di samping untuk memperoleh segala macam informasi, teknologi, ilmu pengetahuan, wawasan, tetapi juga hiburan.

Jika efek hiburan lebih mendorong gaya hidup dan sifat konsumtif daripada efek produktif, atau dengan kata lain efek market lebih potensial dari efek kemampuan memproduksi dan berkontribusi, maka efek informasi tersebut justru defisit yang harus dibayar dengan sangat mahal.

Defisit neraca informasi ini akan menjadi defisit neraca perdagangan yang riil di masa depan yang berasal dari impor produk jadi dan komponen. Belanja teknologi ini akan menyedot daya beli pedesaan, ke kota dan akhirnya ke luar negeri.

Langkah Strategis

Sejalan dengan “laptopisasi” sekolah-sekolah yang sangat strategis dalam membentuk perilaku konsumsi di masa depan, maka industri ICT dengan muatan lokal harus digenjot lebih dulu. Pemikiran dan strategi seperti diuraikan terakhir ini terasa sangat kurang atau bahkan tidak ditemukan sama sekali.

Pemikiran untuk mendorong penggunaan ICT, misalnya, kelihatan sangat spontan dan tidak dipikirkan secara strategis, atau komprehensif kait-mengait untuk kepentingan bangsa yang lebih luas. Sekolah menengah kejuruan yang ada saja cukup dapat diandalkan untuk merakit ICT dan bahkan laptop.

Dropping ICT dari pemerintah untuk kantor-kantor, sekolah, dan universitas sebaiknya menggunakan rakitan ini dan bukan membiarkan potensi surplus dan kesempatan belajar dari APBN bocor ke luar negeri.

Kenapa pemerintah tidak memiliki strategi untuk mengharuskan kantor-kantor dan sekolah menggunakan ICT dalam negeri? ICT dalam negeri itu pun tentu masih berbasis assembling dan lisensi. Akan tetapi hal tersebut masih membawa harapan ke depan agar derajat muatan lokalnya dapat ditingkatkan.

Demikian juga strategi budaya yang lebih luas yang memperkuat jati diri bangsa. Strategi budaya ini akan mengarahkan perkembangan konsumsi yang memperkuat juga perkembangan industrinya. Dengan modal 220 juta konsumen potensial, pengembangan berbagai industri sangat dimungkinkan.

Pemerintah harus berani bersikap dan tidak hanya mengalir dengan alam kebebasan dan hegemoni asing tanpa rekayasa sosial dan rekayasa pembangunan. Memikirkan remiten dan penyerapan kembali surplus melalui contoh perkembangan ICT, memperlihatkan betapa rapuhnya kebijakan pembangunan pemerintah.

Pemerintah seperti menjadi ujung gelombang yang berpusat di luar. Pemerintah menjadi juru kampanye dan advertensi yang paling efektif dari industri ICT dan industri modern lain yang diproduksi di luar. Dengan tidak memiliki kebijakan jati diri yang jelas, menyebabkan kita menjadi bangsa yang makin tergantung saja.

Referensi :

Prof. Bambang Setiaji
Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta

12 Tanggapan

  1. menurut saya ya pak bahwa fenomena lebaran sudah menjadi sebuah budaya bagi masyarakat indonesia khusunya di pulau jawa,jadi sampai kapanpun kita tidak bisa merubah budaya kita tentang mudik pulang kampung, karena mereka sudah setahun mencari uang sebanyak-banyaknya, dan mereka menghabiskan pada saat lebaran mudik di kampungya, walaupun pada saat mereka mudik mereka harus berdesak2n pada saat di stasiun ataupun diterminal,trus juga yang mudik dengan menggunnkan kendaraan yang dapat resiko yang sangat tinggi itupun tidak jadi masalah karena kebahagiaan mereka pada saat lebaran adalah kumpul bareng keluarga di kampung,walaupun dengan biaya yang cukup besar
    ini loh komentar saya tentang lebaran dengan mengeluarkan biaya yang besar tapi tidak jadi masalah karena ini sudah menjadi kebudayaan kita. heeeeeeee………..!!!!

  2. Seharusnya pemerintah harus segera menindak lanjuti strategi budaya yang luas agar jati diri bangsa menjadi kuat, stategi ini yang mengarahkan pada perkembangan konsumsi yang bertujuan dapat memperkuat pula perkembangan industri. Dengan begitu, pergerakan ekonomi pedesaan tidak terpinggirkan.dan pemicu kemiskinan di pedesaanpun dapat terkendali khususnya pada perilaku konsumtif yang semakin cepat merambat pada masyarakat pedesaan.

  3. Menurut saya, tujuan pemerintah dalam penggunaan ICT terhadap rakyat sebenarnya baik yaitu agar rakyat mudah dalam mengakses informasi dan memperbaiki produktifitas pedesaan di masa depan. Tetapi pada penerapannya ternyata berdampak kurang baik karena malah membuat rakyat menjadi konsumtif bahkan menyebabkan kemiskinan baru dalam arti munculnya jurang kebutuhan dan pembiayaannya. Belum lagi gaya hidup orang barat yang masuk tanpa adanya penyaringan dari pemerintah sehingga jati diri/tradisi Indonesia menjadi mulai hilang. Fenomena yang paling mencolok adalah penyedotan kembali remitmen dan bahkan sumber asli pedesaan pada penggunaan ICT misalnya ponsel dan pulsanya serta internet. Mungkin seharusnya pemerintah lebih cermat lagi dalam menganalisa akibat yang akan ditimbulkan pada penggunaan ICT terhadap rakyat secara besar-besaran.

  4. Seharusnya pemerintah harus segera menindak lanjuti strategi budaya yang luas agar jati diri bangsa menjadi kuat, stategi ini yang mengarahkan pada perkembangan konsumsi yang pedesaan tidak terpinggirkan.dan pemicu kemiskinan di pedesaanpun dapat bertujuan dapat memperkuat pula perkembangan industri. Dengan begitu, pergerakan ekonomi terkendali khususnya pada perilaku konsumtif yang semakin cepat merambat pada masyarakat pedesaan.

  5. Mudik memang sudah menjadi tradisi setiap tahun bagi masyarakat Indonesia. Oya pak…. tadi di atas di jelaskan bhw Remiten merupakan sumber ekonomi yang sangat penting bagi pedesaan. Sumber ekonomi yang bagaimana, pak……? makazih bgt y pak….

  6. Ass…..ekonomi lebaran, ekonomi remiten saya setuju dg judul trsbt. karena kebnyakan orng ndesO tdk berpikiran pnjang , mnrut kbnykan pemudik mrka beranggpan silaturahmi pd saat lebaran itu wajib. sehingga mengakibatkan jumlah kejahatan dan kecelakan semakin meningkat. kecelakaan di jalan pun ketika mengendarai sepeda motor asal masih bisa bernafas mereka anggap masih untung dan alhamdulillah. itulah kelemahan orang indonesia,dimana dia selalu mengucapkan alhamdulillah saya masih beruntung walaupun tertimpa bencana. laptoisasi sesampainya di kampung karena mereka membawa uang banyak hasil dia bekerja di kota, antara individu yang satu dengan yang lain terjadi persaingan dari mulai fashion sampai teknologi canggih (hand phone). menurut kaca mata saya, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang di jajah oleh kapitalisme jepang. dengan penyerbuan besar-besaran produk luar negri yang tidak ada batasannya kalau kita ikuti, sehingga membuat lemah dan lesunya ekonomi negara kita.

  7. ass……..pak saya sudah mengomentari ekonomi lebaran, ekonomi remiten.komentar saya sudah masuk belum?saya bingung pak bagaimana mengetahui komentar yang masuk or tidak.

  8. mudik-mudik panjenengan tenar bangets sih lo walaupun seX setahun tetep heboh,kaya goyangan inul aja.hehehehehe

  9. bahwa kita ketahiu selama ini ekonomi di Indonesia tidak merata dimana hal ini dibuktikan selama ini peredaran uang 75% berada di Jakarta hal ini tentunya akan menambah arus urbanisasi tetapi dalam menjelang lebaranakan ada sedikit pemerataan perekonomian dimana para pemudik tentunya akan membelanjakan uangnya didaerahnya sendiri hal ini akan menambah inkam bagi para penduduk yang tinggal didaerah-daerah tetapi kemajuan teknologi ikut membantu para warga yang tinggalnya jauh dari keluarga mereka-mereka bisa ketemu dan saling kirim kabar lewat internet sehingga teknologi informatika sangat dibutuhkan walaupun hanya melalui dunia maya.

  10. mudik lagi………ah…mudik lagi…….kau ajak teman-teman juga sanak keluargamu….desa ditinggal hanya untuk cari nahkah.ekonomi kota berkembang,desa makin semrawut

  11. MUDIK………..sesuatu yang menyebalkan menurut saya, karena di daerah saya kalau waktu mudik datang pasti macet, maklum jalur pantura (Brebes) sepanjang jalan diperboden dengan tambang dan bambu. dari rumah saya ke tempat saya tinggal menuju ke tempat saya bekerja saja harus memakan waktu setengah jam padahal kalau tidak musim mudik hanya ditempuh sepuluh menit saja. itukan namanya rugi waktu, rugi tenaga, rugi bensin pula…… bagaimana ya pak kalau musim mudik itu dihilangkan? sebel sih……………. macet………… ke pasar aja ga ada jalan…………SEBEL…..

  12. Aku ga pernah ngrasain yang namanya mudik,jd…………???
    aku ga tahu rasanya mudik tu kaya gimana.
    kata kebanyakan orang si mudik tu menyenangkan walopun terkadang berdesak-desakan,n mesti kena macet berjam-jam.tp udah jd tradisi x ya jd nikmatin ja………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: